This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions..

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions..

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions..

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions..

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions..

Rabu, 16 April 2014

Agenda Kegiatan dan Festival Kalimantan Barat Tahun 2014

SAMBASBORNEO - Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Kalbar telah membuat agenda kegiatan dan festival Kalimantan Barat yang akan diselenggarakan pada tahun 2014. Berikut adalah jadwal pelaksanaan kegiatan tersebut, antara lain:


BULAN JANUARI
NAMA KEGIATAN LOKASI KEGIATAN
Gelar Seni Budaya Daerah Taman Budaya Pontianak
HUT Pemda Provinsi Kalbar Kota Pontianak
Festival Burung Kabupaten Ketapang
Sedekah Bumi Kabupaten Kubu Raya

BULAN FEBRUARI
NAMA KEGIATAN LOKASI KEGIATAN
Lomba Sampan Tradisional Kabupaten Kubu Raya
Cap Go Meh Kota Singkawang

BULAN MARET
NAMA KEGIATAN LOKASI KEGIATAN
Titik Kulminasi Kota Pontianak
Festival Seni Budaya Kabupaten Kapuas Hulu
Tumpang Nagari Kabupaten Landak

BULAN APRIL
NAMA KEGIATAN LOKASI KEGIATAN
Sembahyang Kubur Kota Singkawang
Selamatan Laut Pulau Karimata
Naik Dango Kabupaten Landak
Upacara Dange’ Kabupaten Kapuas Hulu
Festival Bumi Sebalo Kabupaten Bengkayang

BULAN MEI
NAMA KEGIATAN LOKASI KEGIATAN
Wisata Bahtera Kota Singkawang
Festival Faraje’ Kabupaten Sanggau
Ngabayot’n Kota Singkawang
Gawai Dayak Kota Pontianak

BULAN JUNI
NAMA KEGIATAN LOKASI KEGIATAN
Nike’ Benih & Pamole’ Beo’ Kabupaten Kapuas Hulu
Nyobeng Kabupaten Bengkayang
Ziarah Makam Juang Mandor Kabupaten Landak
Festival Singkawang Kota Singkawang
Festival Budaya Kayong Kabupaten Kayong Utara
Festival Band & Barongsai Kota Singkawang
Lomba Sampan Bedar Kabupaten Sambas

BULAN JULI
NAMA KEGIATAN LOKASI KEGIATAN
Gawai Nyapat Taon Kabupaten Sekadau
Kisbo Kabupaten Sintang
Festival Meriam Karbit Kota Pontianak
Sedekah Bumi Kabupaten Kubu Raya
Gawai Dayak Kabupaten Sanggau

BULAN AGUSTUS
NAMA KEGIATAN LOKASI KEGIATAN
Pekan Raya Sintang Kabupaten Sintang
Festival Bumi Senentang Kabupaten Sintang
Festival Bumi Lawang Kuari Kabupaten Sekadau
Pagelaran Seni Budaya Melawi Kabupaten Melawi

BULAN SEPTEMBER
NAMA KEGIATAN LOKASI KEGIATAN
Titik Kulminasi Kota Pontianak

BULAN OKTOBER
NAMA KEGIATAN LOKASI KEGIATAN
Hari Jadi Kota Pontianak Kota Pontianak
Festival Seni Budaya Daerah Kabupaten Ketapang
Festival Budaya Binua Landak Kabupaten Landak

BULAN NOVEMBER
NAMA KEGIATAN LOKASI KEGIATAN
Gawai Dayak Kabupaten Ketapang

BULAN DESEMBER
NAMA KEGIATAN LOKASI KEGIATAN
Gebyar Wisata Bukit Kelam Kabupaten Sintang
Festival Danau Sentarum Kabupaten Sintang
Robo’-Robo’ Kabupaten Mempawah
Pontianak Old & New Kota Pontianak

Sumber Tulisan:

Selasa, 15 April 2014

Fenomena Halo Bulan Hiasi Langit Malam di Pontianak

SAMBASBORNEOnews, Pontianak - Fenomena Halo Bulan Senin (14/04/2014) malam, menghiasi langit malam di Kota Pontianak. Fenomena astronomi menakjubkan tersebut dapat di lihat dengan mata telanjang tanpa alat bantu apa pun. Hallo bulan dapat dinikmati mulai sekitar maghrib dan Bulan purnama yang tampak bulat seutuhnya dikelilingi oleh cahaya yang melingkar seperti cincin.

"Awal-awal saya melihat bulan posisinya sangat dekat, sehingga kelihatan besar dan tak lama kemudia tiba-tiba ada lingkaran yang mengelilingi sang bulan. Saya takjub melihat fenomena langka ini, sebelumnya saya juga pernah melihat hal serupa tapi pada matahari bukan bulan. Dan saya pun tidak ketinggalan mengabadikan moment ini," ujar Siti Zubaidah saat ditemui di Taman Alun-Alun Kapuas Pontianak, Selasa (15/12/2014).

Jika dilihat dari bumi, bulan seperti terkurung sendirian dalam lingakaran cincin cahaya berpelangi. Dan uniknya ada satu bintang yang berada dalam lingkaran gradasi cahaya berkabut.

Sementara itu dikutip dari beberapa blog melaporkan kejadian ini petanda akan datangnya sebuah bencana seperti halnya sebelum terjadinya Tsunami Aceh pada 26 Desember 2006 silam, namun informasi tersebut belum bisa dipastikan kebenarannya.

Merujuk kepada wikipedia , Fenomena halo (bahasa Greek: ἅλως) adalah lingkaran cahaya seakan-akan pelangi yang mengelilingi Matahari atau Bulan. Ia adalah sejenis fenomena optik.

Halo Bulan terbentuk karena adanya awan Cirrostratus yang memiliki sifat tipis, transparan dan ada pada ketinggian 6 km di atas permukaan laut. Ketika cahaya Bulan menembus lapisan awan itu, cahaya akan dibiaskan dan mengumpul membentuk pola lingkaran. Fenomena halo juga bisa menjadi pertanda akan datangnya hujan karena awan Cirrostratusdikenal sebagai awan pembawa hujan. (RP)

Ritual Adat Tepung Tawar Masyarakat Suku Sambas


SAMBASBORNEO - Budaya adalah kekayaan atau warisan dan sekaligus menjadi ciri khas suatu daerah yang harus dipertahankan keberadaannya agar tidak hilang di telan zaman.  Seperti yang kita bahas tentang budaya di Kalimantan Barat, begitu banyak suku di Kalimantan Barat seperti Melayu, Dayak, Bugis, dan Tionghoa menjadi begitu beraneka ragam budaya di Kalimantan Barat. Misalnya, pengenalan budaya Melayu dan budaya Dayak adat tepung tawar / napukng tawar.

Untuk Suku Sambas itu sendiri, Adat dan upacara adat Tepung Tawar sudah menjadi kewajiban atau keharusan khususnya kalangan masyarakat Suku Sambas (Melayu Sambas) dan tidak hanya Suku Sambas akan tetapi kalangan Dayak Salako di Kabupaten Sambas juga masih mempertahankan adat dan upacara Tepung Tawar (bahasa dayak: Napukng Tawar).

Adat dan upacara adat Tepung Tawar tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat Sambas sejak ratusan tahun yang lalu, dan pada saat itu masyarakat Suku Sambas masih memegang teguh kepercayaan leluhur yakni agama Hindu Karahingan. Dan hingga sekarang keberadaannya diapresiasi dengan baik oleh masyarakat Suku Sambas. Dan sejalan dengan datangnya agama Islam yang disebarkan oleh para mubaliq, baik yang datang dari Arab, Sumatera, Malaysia, Thailand, dan pulau-pulau lainnya.

Adat dan upacara Tepung Tawar umumnya banyak dilakukan oleh masyarakat Melayu dan Suku Dayak akan tetapi pada masyarakat Melayu upacara tepung tawar yang dikenal pada umumnya ada empat jenis yakni Tepung Tawar Badan, Tepung Tawar Mayit, Tepung Tawar Peralatan serta Tepung tawar Rumah. Dari empat jenis Tepung Tawar tersebut masing-masing mempunyai perbedaan baik yang menyangkut peralatan maupun bahan-bahan yang dipergunakan. 

Adat dan upacara Tepung Tawar oleh masyarakat Suku Sambas dilakukan dalam berbagai kegiatan. Pada umumnya meliputi siklus daur kehidupan manusia, artinya Tepung tawar dilakukan pada saat pelaksanaan perkawinan, saat si Ibu melahirkan anak pertamanya. Dan pada saat sebuah keluarga mendapat musibah meninggal dunia. Pada masa-masa tertentu. Yaitu terjadinya kejadian atau pristiwa sangat penting dalam masyarakat Melayu Sambas juga dilakukan acara Tepung Tawar.

Contoh beberapa kejadian atau peristiwa penting secara singkat diuraikan sebagai berikut.
  1. Pada pelaksanaan perkawinan, Tepung Tawar dilakukan terhadap kedua pengantin, yang dilakukan pada hari ketiga setelah hari pesta kawin. Setelah Tepung Tawar dilaksanakan, dilanjutkan dengan acara adat “mandi bululus” dan acara “balik tikar”. 
  2. Calon ibu yang kehamilan pertamanya memasuki usia tujuh bulan dan usia sembilan bulan, melakukan Tepung Tawar tujuh bulan. Tepung Tawar sembilan bulan (disebut juga”Tepung Tawar”atau “Belenggang”) ketika sang bayi berusia 40 hari dilakukan pada acara Tepung Tawar bayi dan kedua suami-istri.
  3. Bila ada keluarga yang menempati rumah baru (pindah rumah maka di lakukan pula acara Tepung Tawar).
  4. Tepung Tawar dilaksanakan juga bila ada anak laki-laki yang akan dikhitan.
  5. Demikian juga keluarga yang salah seorang anggota keluarganya meninggal, pada hari-hari tertentu setelah hari penguburan akan dilaksanakan acara Tepung Tawar bagi keluarga yang ditinggalkan.

Maksud dan fungsi mengadakan acara Tepung Tawar ini adalah untuk memohon keselamatan dan terhindar dari sesuatu yang tidak diinginkan, yang tentunya di tunjukkan krpada Allah Swt. Yang menciptakan manusia dan alam raya. Inilah barang kali tujuan pokok, disamping adanya tujuan lain yang tersirat dari upacara Tepung Tawar tersebut. Pada akhir dari acara Tepung Tawar senantiasa dipanjatkan doa selamat oleh tokoh dan tua-tua kampong.
Manjelang pelaksanaan Tepung Tawar, diperlukan persiapan, perlengkapan, tenaga pelaksanaan, dan lain-lain. Berikut ini uraian secara ringkas hal-hal yang harus ada dan dipersiapkan dalam ritual Tepung Tawar tersebut.

  1. Waktu pelaksanaan tepung tawar umumnya pada pagi atau pada sing hari, bertempat dirumah atau orang yang hajatan. (bersangkutan).
  2. Pelaksanaannya terdiri antara lain :
         a. Satu buah mangkok putih tempat tepung beras yang telah di hancurkan dengan air tolak bala, yaitu segelas air putih yang di bacakan doa tolak bala. Selain untuk menghancurkan tepung beras, air tawar tolak bala digunakan juga untuk diminum atau untuk disiramkan di kepala yang ditepung tawari.

       b. Beberapa helai daun lenjuang ungu, daun mentibar (disebut daun ntibar), dan beberapa helai daun ribu-ribu.

       c. Sebentuk cincin emas atau perak, terutama pada tepung tawar mandi belulus pengantin. Cincing tersebut diikatkan pada anyaman daun kelapa muda.

       d. Beras kuning secukupnya.

       e. Sebuah talam kecil tempat meletakkan mangkuk.

Orang di minta untuk melaksanakan Tepung Tawar disebut “Tukang Pappas”. Pelaksanaan di sebut “mappas”. Tukang Pappas ini biasanya orang-orang tua di kampung, keluarga tua terdekat, dan lain-lain. Jumlah tukang pappas selamanya ganjil, misalnya 3,5 atau 7 orang. Jumlah ganjil ini memang telah ditentukan adat. Kalau dilakukan laki-laki atau perempuan maka jumlahnya di atur, misalnya kalau lima orang, dibagi 3 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. 

Kalau Pemappas sebanyak 7 orang dapat di bagi lima laki-laki, dua orang perempuan atau 3 orang perempuan dan empat orang laki-laki, dan seterusnya. Tiga jenis daun tersebut di atas diikat dijadikan satu berikut cincin, diletakkan disamping mangkuk berisi air tupung beras. Beras kuning dimasukkan kedalam gelas kecil, diletakkan di samping mangkuk.

Setelah sesuatu lengkap dan maka acara Tepung Tawar dilaksanakan. Untuk pelaksanaan penulis mengambil contoh acara Tepung Tawar pindah rumah baru. Acara ini biasanya dilaksanakan pada hari jumat pagi. Pada malam jumat biasanya dilakukan pembacaan surat yasin oleh para tamu. Pada saat selesai membaca surat yasin dan doa maka tamu di sungguhi jamuan berupa nasi, kue-kue sop kimlo, besok paginya tetamu yang hadir tersebut di manta untuk hadir pula sekitar pukul 5.30 WIB atau pukul enam pagi.

Keluarga yang pindah rumah duduk dilantai beralaskan tikar. Sang ibu di samping bapak, di kiri atau kanan duduk anak-anak mereka . Posisi duduk dengan melonjorkan kedua kaki ke depan. Busana yang di pakai bebas, rapi, dan bersih. Kopiah yang di pakai di tanggalkan dan kedua tangan di atas lutut dengan tapak tangan terbuka.

Setelah siap maka tibalah orang pertama Tukang Pappas melaksanakan tugasnya. Mangkuk berisi air tepung beras dipegang dengan tangan kiri, yangan kanan memengan ikatan daun lenjuang ,ntibar, daun ribu-ribu. Ikatan daun dicelupkan kedalam mangkuk, kemudian dengan perlahan-lahan dipukul-pukulkan ke bahu kanan dan kiri si Bapak, kemudian dipukulkan pada kedua tapak tangan, setelah itu, pada kedua kaki. Hal yang sama dilakukan juga kepada si Ibu, anak tertua, dan anak berikut sehingga selesai.

Setelah memappas maka si Bapak, Ibi, dan anak-anak ditaburi beras kuning pada kepalanya. Setelah selesai tukang pappas pertama, dilanjutkan oleh Tukang Pappas kedua, dilanjutkan oleh Tukang Pappas ketiga, keempat, dan seterusnya sesuai dengan jumlah pemappasan yang telah ditentukan.
Tukang Pappas terakhir sedikit berbeda dengan Tukang Pappas sebelumnya. Pappasan terakhir, setelah melakukan pappasan seperti Pemappasan terdahulu, Pemappasan terakhir harus pyla memappas bagian-bagian rumah yang dipindahi, yaitu memeppas keempat sudut (tiag sudut) rumah, dimulai dari sudut kanan luar rumah, kemudian menuju ke belakang rumah. Setelah selesai, daun (ikatan daun) dan air tepung tawar dibuang ketempat khusus di belakang rumah.

Keluarga yang ditepung tawari diberi minum air tolak bala kemudian mandi. Suguhan jamuan pada pagi ituselalu berupa kue-kue sebanyak 5 sampai 8 macam. Diadatkan pula untuk tetep menyuguhkan kue apam beras, ketupat ketan, dan bertih yang diberi gulla merah. Minumannya selalu manis seperti kopi atau kopi susu.

Secara garis besar dan umum dilakukan adalah seperti acara Tepung Tawar pindah rumah baru. Pada acara Tepung Tawar pengantin mandi belullus acara tambahan adalah meniup Tawar yang diletakkan di dalam “dulapan” berisi beras, padi, gula pasir, kelapa, dan lain-lain. Lilin sebanyak 5 sampai 7 buah ditiupkan secara bersamaan oleh kedua pengantin. Setelah itu di lanjutkan dengan mandi bersama yang dilakukan siraman oleh beberapa “tukang siram” dari para tetamu yang di undang.
Pada acara ini salah seorang penyiram melakukan sesuatu yang tidak diduga sebelumnya. Setelah ia melakukan siraman satu atau dua kali, Siraman ketiga bukan ditujukan kepada kedua pengantin tetapi diarahkan dan ditujukan kepada tetamuyang menyaksikan. Tentu saja tetamu yang terkena siraman iar basah kuyup dan ia pun secara spontan mengambil gayung dan menyiram tetamu yang belum terkena siraman. Suasana menjadi ramai dan tawa berkepanjangan.

Selesai acara mandi-mandi ini, dilanjutkan dengan lagi acara “balik tikar” dengan tata cara tertentu pula. Tepung Tawar pengantin jamuan yang di hidangkan biasanya berdentuk makan nasi “bersaprah” (makan beregu).

Pada Tepung Tawar kehamilan pertama berusia tujuh bulan yang ditepung tawari adalah si Ibu yang hamil. Pada acara Tepung Tawar kehamilan berusia atau memasuki usia sembilan bulan, Tepung Tawar ini disebut “Belenggang atau Tepung Tawar Minyak”. Sebelum ditepung tawari cara biasa, si Ibu berbaring diatas tempat tidur ber Alaskan kain batik. Seorang bidan (dukun beranak) yang telah di “tampah” lama sebelumnya mengurut-urut perut si Ibu. Selesai urutan pertama, kain batik pertama diambil demikian dilakukan sampai ketujuh kain ditarik dari alas si Ibu.

Pada saat itu, adapt Tepung Tawar Belenggang sudah jarang dilakukan. Tepung Tawar setelah si bayi berusia empat puluh hari yang kemudian dilanjutkan dengan acara “injak bumi” juga agak jarang dilakukan. Hal ini tidak dilakukan lagi mungkin disebabkan banyaknya perlrngkapan yang diperlukan, misalnya tanah yang akan diinjak si bayi haruslah tanah yang di ambil dimekah, saat orang naik haji.
 



A.Muin Ikram. 2004. Adat Istiadat Perkawinan Melayu Sanbas. Naskah.
Sambas : MABM Sambas.

Aghimsa. Tt. Adat Kawin Melayu Sambas. Pontianak: Yayasan Penulis 66.

Ritual Adat Antar Ajong Masyarakat Suku Sambas

SAMBASBORNEO - Antar Ajong adalah salah satu upacara adat tradisional yang secara turun temurun oleh masyarakat suku Sambas (Melayu Sambas) di Kabupaten Sambas tepatnya di Kecamatan Paloh dan Kecamatan Teluk Keramat untuk menanam padi yang dilaksanakan setiap tahun pada masa bercocok tanam tiba. 

Suku Sambas (Melayu Sambas) adalah suku bangsa atau etnoreligius Muslim yang berbudaya melayu, berbahasa Melayu dan menempati sebagian besar wilayah Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang, Kota Singkawang dan sebagian kecil Kabupaten Pontianak- Kalimantan Barat. Suku Melayu Sambas terkadang juga disebut Suku Sambas, tetapi penamaan tersebut jarang digunakan oleh masyarakat setempat.

Secara linguistik Suku Sambas merupakan bagian dari rumpun Suku Dayak, khususnya dayak Melayik yang dituturkan oleh 3 suku Dayak : Dayak Meratus/Bukit (alias Banjar arkhais yang digolongkan bahasa Melayu), Dayak Iban dan Dayak Kendayan (Kanayatn). Tidak termasuk Banjar, Berau, Kedayan (Brunei), Senganan, Sambas yang dianggap berbudaya Melayu. Sekarang beberapa suku berbudaya Melayu yang sekarang telah bergabung dalam suku Dayak adalah Kutai, Tidung dan Bulungan (keduanya rumpun Borneo Utara) serta Paser (rumpun Barito Raya).

Masayarakat setempat mempercayai ritual adat ini, aktivitas tersebut dapat membuat tanaman padinya terhindar dari serangan hama dan penyakit. Masyarakat sangat yakin bahwa segala wabah, hama, bencana, dan penyakit masing-masing mempunyai roh jahat yang menguasainya. Maka dari itu dengan adanya ritual Antar Ajong, roh-roh jahat itu dapat di taklukkan supaya tidak mengganggu masyarakat setempat.

Lokasi ritual tahunan ini bertempat di Pantai Tanah Hitam, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas. Dan waktu pelaksanaan Ritual Antar Ajong setiap pertengahan tahun, sekitar bulan Juni atau bulan Juli. Untuk menentukan kapan Ritual Antar Ajong dimulai, ternyata tidak sembarangan. Terlebih dahulu harus ada wangsit atau alamat yang diterima oleh pawang dari alam gaib. Sampai sekarang, Antar Ajong masih diyakini warga. Menurut Lihin, rata-rata masyarakat setempat masih berpatokan kepada proses ini untuk memulai musim tanam, kecuali yang menggunakan bibit unggul (padi tiga bulan).

Ritual adat ini sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu dan masih bertahan hingga sekarang. Antar Ajong sudah dilakukan masyarakat setempat jauh sebelum agama Islam datang ke Bumi Serambi Mekah Sambas dan masyarakat setempat masih memegang teguh agama leluhur yakni Hindu Kaharingan, bersamaan dengan Zaman Kerajaan Majapahit dan sebelum Kesultanan Sambas.


Antar Ajong bisa diartikan membuang atau melepaskan atau menghanyutkan sebuah replika perahu lancang kuning yang bernuansa warna kuning (warna khas Kesultanan Sambas) yang berukuran 1-2 meter yang berisi aneka jenis sesajian berupa hasil-hasil bumi ke laut lepas. Dengan mengumpulkan roh-roh jahat untuk kemudian mengirimnya pergi berlayar. Sebagai kompensasi, warga memberikan bekal yang diperlukan roh itu selama berlayar berupa "ratteh", beras kuning, garam, pisang, kelapa, kue cucur, ketupat dan barang-barang keperluan lain yang dibutuhkan rumah tangga.

Antar Ajong pemaknaannya dari dahulu hingga sekarang memiliki pergeseran. Dan ini berarti dalam hal pemaknaan ritual telah mengalami perkembangan, ada kemungkinan akibat pengaruh perkembangan zaman dan paradigma masyarakat setempat. Selain itu, instansi pemerintah setempat atas nama dinas Kombudpar (Komunikasi Budaya dan Pariwisata) Kabupaten Sambas ingin melestarikannya sebagai salah satu aset pariwisata daerah.

Ritual Antar Ajong diawali dengan  musyawarah dan permohonan doa, dilanjutkan dengan upacara "Besiak" di malam sebelumnya yang dipimpin oleh seorang pawang dan didampingi oleh Peradi (asisten pawang yang menjembatani komunikasi dengan roh). Upacara Besiak adalah sebuah kegiatan untuk menangkap roh-roh jahat penguasa hal negatif guna dimasukkan ke dalam Ajong. Proses penangkapan roh jahat tersebut juga dilakukan dengan menggunakan roh-roh (baik) penguasa alam gaib di kawasan setempat yang merasuki pawang. 

Dalam upacara Besiak ini, sebuah panggung kecil berdiri untuk tempat aneka keperluan upacara seperti kemenyan, bara api, "ratteh" (berondong dari ketan putih), beras kuning, kue cucur, telur, darram-darram, pelepah pinang, mayang pinang, pisang, dan lainnya.  

Satu tong besar air yang sudah dicampur dengan berbagai jenis bunga-bungaan di depan para pawang. Air inilah yang nantinya akan digunakan masyarakat setempat untuk merendam benih padi sebelum ditanam. 
Ketika memanggil roh, peradi dan pawang bersahut-sahutan melantunkan syair dan lagu khusus yang diiringi dengan pukulan gendang dan alat musik lainnya. Sebelum syair habis dilantunkan, tiba-tiba, terjadi perubahan pada sang pawang. Tubuhnya berkelojotan sesaat dan matanya nanar menatap penonton. Itu diyakini sebagai pertanda bahwa tubuhnya telah disusupi oleh roh. Peradi kemudian berkomunikasi dengannya dan menyatakan maksud pemanggilan.
 
Roh baik yang datang itu diminta untuk "menangkap" roh-roh jahat dan memasukkannya ke dalam ajong. Pawang yang sudah dirasuki roh itu terkadang bertingkah aneh-aneh. Ada kalanya ia memanjat di atas atap rumah, pohon dan sebagainya. Setelah itu, ia akan mengelilingi ajong sambil menaburkan "ratteh" atau mengipasinya dengan mayang pinang. Biasa pula ia minta dihibur dulu dengan nyanyian dan tarian. Tak heran dalam prosesi ini, beberapa penari radat memang telah disiapkan.

Usai acara hiburan dan setelah mendapatkan instruksi dari pawang, mereka lalu memanggul ajong tersebut. Dengan aba-aba berupa shalawat nabi, mereka berlari sejadi-jadinya menuju laut. Para penonton bersorak-sorai melihatnya. Ajong didorong ke tengah melawan ombak. Mereka baru kembali ke daratan setelah ajong dinilai aman berlayar.(RP)

Senin, 14 April 2014

Registrasi Anggota Komunitas Blogger Pantai Utara (Pantai Utara)

Blog merupakan singkatan dari web log adalah bentuk aplikasi web yang menyerupai tulisan-tulisan (yang dimuat sebagai posting) pada sebuah halaman web umum. Tulisan-tulisan ini seringkali dimuat dalam urut terbalik (isi terbaru dahulu baru kemudian diikuti isi yang lebih lama), meskipun tidak selamanya demikian. Situs web seperti ini biasanya dapat diakses oleh semua pengguna Internet sesuai dengan topik dan tujuan dari si pengguna blog tersebut.

Komunitas Blogger Pantai Utara (Pantura) adalah sebuah ikatan yang terbentuk dari narablog/blogger yang lahir, tinggal atau pernah tinggal di Kabupaten Sambas berdasarkan kesamaan asal daerah, kesamaan hobi, dan sebagainya. Para blogger yang tergabung dalam Komunitas Blogger Pantai Utara (Pantura) dalam waktu dekat mengadakan kegiatan-kegiatan bersama-sama seperti kopi darat.

Untuk bisa bergabung di Komunitas Blogger Pantai Utara (Pantura), silahkan ikuti langkah-langkah berikut ini :

  1. Klik gambar dibawah ini untuk Registrasi Anggota Komunitas Blogger Pantai Utara (Pantura)   
    http://sambas-borneo.blogspot.com/2014/04/form-registrasi-anggota-komunitas.html 

    2.  Like fanpage "Komunitas Blogger Pantai Utara (Pantura)"


Silahkan para blogger mengikuti dua langkah di atas, apabila sudah diterima nanti saya akan konfirmasi Anda untuk bergabung di grup "Komunitas Blogger Pantai Utara (Pantura)"


*Komunitas ini masih belum resmi berdiri, masih dalam tahap percobaan, apabila jumlah pendaftar sudah melebihi 20 narablog/blogger, maka akan di adakan pertemuan untuk kedapannya Komunitas Blogger Pantai Utara.

Salam Blogger !!!

Form Registrasi Anggota Komunitas Blogger Pantai Utara (Pantura)





Keterangan Lebih Lanjut Hubungi Dit Aditya II | Pendiri KBP

Jepang dan Belanda Belum Kembalikan Pusaka Kalbar

SAMBASBORNEOnews, Pontianak - Jepang dan Belanda adalah Negara yang paling banyak menjarah harta pusaka dan dokumen berharga kerajaan di Kalimantan Barat. Hingga kini belum ada iktikad baik dari dua negara tersebut untuk mengembalikan peninggalan kerajaan di Kalbar.

Ketua Majelis Kerajaan Nusantara, Gusti Suryansyah, mengatakan telah lama meminta agar kedua negara itu mengembalikan harta pusaka beserta dokumen-dokumen pentingnya. Tapi upaya tersebut tidak membuahkan hasil. “Kami ingin pemerintah daerah mencermati hal ini sebagai hal yang penting karena nilainya tidak bisa dihargai dengan uang,” kata dia, yang juga Raja Kerajaaan Ismahayana Landak bergelar Pangeran Ratu, Jumat, 4 Mei 2012.

Dua negara tersebut, kata dia, banyak mengambil dokumen penting kerajaan dan melakukan pemiskinan terhadap kerajaan-kerajaan di Kalimantan Barat. “Bahkan ada kerajaan yang dimiskinkan, yang hanya ditinggali oleh Belanda, baju yang dipakai di badan,” katanya.

Habis dijarah Belanda, kekejaman masa penjajahan Jepang ikut bertanggung jawab dalam menghilangkan generasi para raja, tokoh politik, alim ulama serta tokoh masyarakat yang berpengaruh saat itu, yang dikenal dengan "Peristiwa Mandor Berdarah".

Peristiwa Mandor adalah peristiwa pembantaian massal yang menurut catatan sejarah terjadi pada tanggal 28 Juni 1944. Kala itu terjadi pembantaian tanpa batas etnis dan ras oleh tentara Jepang dengan samurai, di daerah Mandor, Kabupaten Landak. Kini, melalui Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2007, Peristiwa Mandor ditetapkan sebagai Hari Berkabung Kalimantan Barat yang diperingati setiap 28 Juni .

Dari data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalbar, penghuni pertama Kalimantan Barat diperkirakan hidup di kawasan pantai dan pinggiran Sungai Kapuas. Pada abad ke-5, mereka sudah menjalin hubungan dagang dengan India, Cina, dan Timur Tengah. Mereka termasuk dalam rumpun Melayu.

Di Kalimantan Barat sedikitnya pernah berdiri 13 kerajaan. Kerajaan-kerajaan tersebut adalah Tanjungpura, Sukadana, Simpang, Mempawah, Sambas, Landak, Tayan, Meliau, Sanggau, Sekadau, Sintang, Kubu, dan Pontianak. Tumbuhnya kerajaan tersebut bermula dari kedatangan Prabu Jaya, anak Brawijaya dari Pulau Jawa.

Tahun 1598 Belanda mulai mendarat di Kalimantan. Namun kolonialisme baru mencengkeram Kalimantan pada abad ke-17. Ketika itu, Belanda dan Inggris berusaha menguasai perdagangan. Sementara itu Kerajaan Bugis juga berusaha menguasai Kalimantan. Mereka kemudian mendirikan kerajaan baru di Mempawah. Selain itu, lahir pula Kesultanan Pontianak, yang pada masa pemerintahan Sultan Hamid menggabungkan diri dengan Republik Indonesia.

Pada abad ke-19, Belanda dan Inggris semakin intensif memaksakan monopoli dagangnya di berbagai kesultanan. Mereka juga menyebarkan agama Kristen. Agar bisa mendominasi perdagangan, mereka harus mematahkan berbagai perlawanan beberapa kesultanan dan suku yang tidak mau tunduk. Pada awal abad ke-20, Belanda telah menguasai daerah pedalaman. Namun pada 1930 Belanda baru berhasil menduduki Kalimantan, kecuali Kalimantan Utara (Malaysia) yang dikuasai oleh Inggris.


ASEANTY PAHLEVI

Misteri Makam Belanda di Bukit Tanjung Batu Pemangkat


JEJAK RADIT - PEMANGKAT merupakan sebuah kota kecamatan dengan julukan Kota Berkat, Kota Perdagangan dan Kota Api (Sering Terjadi Kebakaran) yang secara administratif terletak di Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat, dengan posisi berada Lintang: 1 ° 10 '35 "N dan Bujur: 108 ° 57 '14 "E di pulau Borneo. 

Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Jawai, Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Selakau Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Semparuk, Sebelah Barat berbatasan dengan Laut Natuna.

Populasi sekitar 90 ribu jiwa dengan beberapa suku atau etnis yaitu Melayu, Tionghoa, Dayak, Bugis, Jawa dan suku lainya. Mata pencaharian penduduk Pemangkat yaitu Sektor Pemerintahan, Perdagangan, Pertanian, Peternakan, Kerajinan Tangan, Perikanan dan Sektor Keterampilan (Buruh, Kernet, Cangkau, dan keahlian bangunan). Sebagian besar penduduk beragama Islam dan sebagian lain beragama konghucu, Nasrani dan Budha.

Bukan hanya panorama alamnya yang indah, Kota Pemangkat juga banyak menyimpan misteri dan peninggalan-peninggalannya  tempo dulu. Di kaki Gunung Tanjung Batu terdapat 2 buah meriam tembak yang usianya hampir 2 abad dan sampai sekarang masih ada keberadaannya. Tidak jauh dari situ terdapat Tugu kekejaman fasisme Jepang yang memakan korban tidak sedikit.

Tugu pada awal tahun 1974 masih terlihat dikelilingi oleh belasan makam prajurit Belanda yang gugur menjalankan tugas,  dengan bukti diberinya tanda setiap kepala nisan dengan bentuk salib yang diletakkan topi baja prajurit. Pemerintah kurang memperhatikan dan tidak dipelihara sampai tahun 2008, maka dapat dilihat sebagai sebuah tugu monumen yang bentuknya bujur sangkar dengan puncak atas berbentuk limas dengan tulisan 1850 dan badan tugu empat persegi bertuliskan F. Jsorg, Luit Kol Inf. 1850 dan V.Winsheim. Legenda Batu Ballah. Merupakan salah satu legenda rakyat yang sudah jadi salah satu aset.

Pada masa pemerintahan Kolonial Hindia-Belanda, Pemangkat adalah Benteng Pertahanan yang strategis dan merupakan tempat pendaratan Balatentara Jepang pertama kali di Kalimantan Barat pada tahun 1942. 

Berbicara masa era pemerintahan Hindia-Belanda, ada satu tempat yang sampai saat ini masih ada keberadaannya yakni Makam Jendral Belanda Van Den Boch di atas Bukit Tanjung Batu Pemangkat. Masyarakat pribumi mengenalnya dengan nama OBOS, dan di makamnya terdapat tulisan !0/10 th.1850.

Sampai saat ini, masyarakat pribumi menganggap kawasan tersebut mempunyai nilai mistis dan membuat bulu kuduk merinding. Saya sendiri (penulis) pernah diganggu oleh makhlus tidak kasat mata di kawasan makam Van Den Boch.

Cerita ini berawal dari saya dan teman saya menikmati sunset di Tanjung Batu Pemangkat, waktu semakin berganti, sang mentari pun perlahan-lahan mulai menghilang. Entah ada angin apa, seperti ada aura negatif yang memanggil saya untuk naik ke bukit Tanjung Batu.

Logika saya sudah hilang rasanya, tanpa pikir panjang saya pun mengajak teman saya untuk mendaki bukit. Dia pun mau menerima ajakan saya, padahal hari sudah mau maghrib dan menurut kepercayaan orang setempat, tidak boleh berada di kawasan bukit Tanjung Batu jikalau adzan maghrib mau berkumandang, PAMALI katanya.

Tapi saya tidak tahu entah mengapa tidak menghiraukan pesan-pesan penduduk setempat. Kami pun sedikit kesusahan mendaki bukit Tanjung Batu karena tanahnya yang begitu terjang, 45 derajat.

Sesampai di Makam Jendral Belanda Van Den Boch, kami pun melihatnya dengan seksama, karena baru pertama kali melihat makannya. Makamnya tidak terlalu menarik dan kurang terawat, dibiarkan terlantar begitu saja. Padahal ini bisa menjadi object wisata sejarah untuk Kota Pemangkat.

Perlu di beri taman dan hal-hal pendukung lainya, dengan kata lain ini akan menambah destinasi Kota Pemangkat dan Kabupaten Sambas pada umumnya. Lanjut lagi ke cerita saya, dari kejauhan adzan maghrib pun berkumandang dan saya baru tersadar, mengapa kami bisa ada di sini, mengapa dan mengapa ??

Saya pun mengajak teman saya untuk turun ke lereng bukit, di dekat Makam terdapat pohon tua yang sangat besar. Tak sengaja saya berhenti sejenak disitu, tinggal setengah meter jarak saya dan pohon itu, tiba-tiba kami berdua mendengar nyanyian perempuan sangat jelas sekali. Terasa dia berada dibalik pohon.

Kaget bukan kepalang, tanpa pikir panjang kami pun langsung berlari terbirit-birit ke lereng bukit. Ketika berada di bawah, teman saya melihat sesosok makhluk laki-laki dengan postur tubuh sangat tinggi dan besar tanpa kepala. Dia sedang melihat kami dan memperhatikan gerak gerik kami.

Sosok mahkluk itu masih menjadi pertanyaan, Apakah yang dilihat tadi adalah Van Den Boch ?? atau Penunggu Bukit Tanjung Batu ?? dan suara perempuan seperti sedang menyanyikan anak kecil.

Sosok Van Den Bost atau OBOS diceritakan oleh masyarakat setempat sebagai tentara Belanda yang bengis dan memiliki ilmu Rawarontek, untuk membunuhnya harus memisahkan tubuhnya tanpa setitik darah jatuh ke tanah dan bagian tubuhnya harus dikubur di daratan yang terpisah oleh Laut. Selain Tanjung batu bagian tubuh lainya ada di gunung Kalangbau.